The Sweetest One

Image

“Hei, Kitty. Apa yang harus kulakukan sekarang?”

Theodora, Sang Peri Lolipop dengan rambut gulali dari Negeri Gula-Gula, ketakutan dan menangis sepanjang malam. Dari matanya terus menetes bulir-bulir gula pasir. Ia terus berbicara dengan Kitty, Si Kucing berbulu gula kapas. Tak ada lagi yang bisa ia mintai saran dan pertolongan. Kedua orangtuanya, Raja Coco Cokelato dan Ratu Caramela, berniat mengorbankannya dalam sebuah ritual pembuatan makanan termanis di dunia.

Raja Coco memang terobsesi untuk menciptakan makanan termanis di dunia, yang ia yakini takkan ada makanan lain yang menandinginya. Semua bermula dari mimpi yang ia dapatkan, di mimpi itu ia mendapatkan “wahyu” untuk mengumpulkan bahan baku untuk menciptakan resep makanan termanis di Bumi. Saat makanan tercipta, satu suapannya akan membuat Raja dan Ratu awet muda dan abadi selamanya.

Sampai saat ini, Sang Raja sudah mendapatkan madu termanis dari Negeri Lebah Raksasa – Honey-Bee-Land, lalu batangan cokelat termanis dari Negeri Cokelat, dan terakhir permata gula pasir dari Sugar Island. Tentu saja, Raja mendapatkannya dengan cara kekerasan. Negeri yang ia datangi porak poranda, Raja menghalalkan segala cara untuk mendapatkan bahan baku untuk resepnya tersebut.

Di mimpinya pula, Raja mendapat “wahyu” untuk memenggal kepala Theodora. Rambut gulali yang ada di kepalanya akan menjadi bahan utama untuk menyempurnakan resep yang telah dibuat. Demi tujuannya, Raja dan Ratu siap untuk memenggal kepala anaknya sendiri. Besok pagi ritual itu dilaksanakan. Theodora tinggal menunggu waktu sebelum kepalanya bersatu dalam tungku ritual.

“Sudah kuputuskan untuk pergi dari sini! Do’akan aku selamat, Kitty.” Peri Lolipop memeluk erat kucing kesayangannya.

****

Pukul dua dini hari, Theodora mengendap keluar dari kamarnya. Ia menyusuri lorong-lorong tembok istana cokelat dengan hati-hati, tak ingin membangunkan kedua orangtuanya dan para prajurit.

“HAHAHA… Sudah tak sabar aku menunggu pagi datang. Kan kupenggal kepala Theodora dan kusatukan dalam tungku ritual. Makanan termanis di dunia akan tercipta dan kita akan abadi selamanya!”

Raja Coco begitu girang dengan rencana kejinya.

Theodora tertegun di samping pintu kamar orangtuanya. Diam tak bergerak, terkejut mendengar perkataan Ayahnya. Ia menguping semua percakapan Raja Coco dan Ratu Caramela. Air mata gula pasir-nya mulai menetes kembali. Ia semakin yakin, keputusannya untuk pergi adalah pilihan yang terbaik.

Theodora melanjutkan langkahnya, terus berusaha untuk keluar dari neraka rumahnya.

Akhirnya ia berhasil menyelinap keluar dari pintu istana. Namun, usahanya tak semudah yang ia perkirakan. Di hadapannya ada pasukan yang berjaga.

“Hai, Puteri Theodora. Mau kemana kau? Cepat masuk kembali ke kamarmu!”  prajurit gigi menghadangnya.

“Aku ingin pergi dari sini!”

HAP! Theodora melompat, melewati kepala Si Prajurit Gigi Geraham. Prajurit gigi seri dan taring mulai berdatangan, berusaha menangkapnya.

Keadaan semakin kacau, istana semakin riuh. Theodora terus berlari menjauhi istana.

“Jangan lari! Pasukan, ayo kejar dia!”

BOOONG!! BOOONG!! BOOONG!!

Lonceng di menara Marsmellow berbunyi. Itu tanda bahwa kerajaan sedang dalam keadaan berbahaya. Kaburnya Theodora adalah petaka bagi Raja Coco.

“Anakku, mau kemana kau?! Jangan pergi! Kembali ke pelukan Ayah!” dari beranda istana, Raja Coco membujuk Theodora yang terus berlari.

Pasukan gigi terus bermunculan, menutupi jembatan yang harus dilalui Theodora. HAP! HAP! HAP! Ia terus melompat di atas kepala pasukan.

Tepat di tengah jembatan, satu pasukan berhasil menangkap kaki Theodora. Namun cengkraman prajurit itu lemah. Theodora terjatuh dari atas jembatan. Ia terseret arus sungai caramel yang mengalir di bawah jembatan.

“TOLOON…” belum selesai ucapannya, ia lebih dulu tenggelam dalam sungai caramel.

****

Theodora hilang kesadaran, ia terus terbawa arus. Terombang-ambing ke segala arah. Saat sungai memasuki daerah hutan arumanis, sebuah tangan mencengkram tubuh puteri yang tak sadarkan diri. Theodora diselamatkan oleh pohon berwajah kuda.

“Ka..Kamu siapa?” Theodora mulai sadarkan diri.

“Aku Horstree, aku tinggal di hutan ini bersama penghuni yang lain. Adakah yang bisa aku bantu, Puteri Theodora?”

“A..Aku ingin bersembunyi. Bersembunyi dari Ayah.”

Sambil menunggu pagi, Theodora terus bersama Horstree. Tidur dalam pelukan pohon berwajah kuda itu.

****

Pagi datang, Theodora memutuskan untuk melanjutkan pelariannya.

“Terima kasih, Horstree.”

“Tak perlu berterima kasih. Sudah kewajiban kami untuk membantu dan mengabdi  pada puteri.”

Dari kejauhan, terdengar teriakan pasukan yang masih terus mencari keberadaan Theodora. Pasukan gigi, pasukan kaktus raksasa, dan pasukan bola-bola permen dikerahkan. Ayahnya benar-benar marah.

Jutaan tembakan duri kaktus dan peluru bola permen menghiasi langit pagi ini. Langit menjadi gelap, hitam, tertutup jutaan tembakan itu.

Dua tembakan duri kaktus berhasil menembus kaki dan paha Theodora. “AAAAAKKKK….” Ia berteriak kesakitan.

“Itu puteri yang kita cari! Ayo tangkap dia!”

Pasukan kerajaan semakin masuk ke dalam hutan arumanis. Pasukan kaktus raksasa menghancurkan hutan dengan tongkat raksasa.

“Jangan.. Jangan tangkap aku. Aku mohon..”

“Tidak bisa! Ini sudah perintah dari Raja Coco!”

Suara ratusan derap langkah dari arah belakang Theodora, bala bantuan datang. Pohon berwajah kuda, Panda bertubuh Kuda Nil, Kelinci berbuntut Kucing, dan beragam makhluk aneh lainnya bermunculan. Semua penghuni hutan arumanis pasang badan untuk membantu Theodora. Pasukan itu dikomandoi oleh Horstree.

“Lawan kami dulu jika kalian ingin menangkapnya!”

Seketika hutan arumanis berubah jadi medan pertempuran. Theodora bersembunyi di balik pohon besar.

Terdengar pula suara bising di udara dari kejauhan. Pasukan lebah raksasa dari Negeri Honey-Bee-Land dan prajurit Negeri Cokelat juga datang membantu. Kitty, Si Kucing berbulu gula kapas ikut terbang di salah satu lebah raksasa. Kitty berlari sepanjang malam, melewati perbatasan untuk meminta bantuan dari negeri yang dulu diserang Raja Coco.

Mereka semua bersatu. Pembalasan dendam siap terjadi.

Tembakan meriam madu dan peluru cokelat beradu dengan tembakan duri kaktus dan peluru bola permen. Negeri Gula-Gula telah resmi menjadi arena pertempuran.

Keindahan warna-warni memudar, diganti dengan warna merah yang menyelimuti.

Pasukan dari kedua belah pihak berjatuhan di tanah yang memerah. Belasan kaktus raksasa terbelah dua, ratusan lebah raksasa berserakan, prajurit gigi bolong dan hancur, pasukan cokelat dan bola-bola permen lumer tak bersisa, pasukan makhluk aneh penunggu hutan arumanis berguguran.

Perlahan istana cokelat mulai meleleh, menara Marsmellow rubuh terbagi tiga, sungai caramel berubah warna jadi merah menyala. Pasukan Negeri Gula-Gula kalah telak. Raja Coco dan Ratu Caramela tak berdaya, mereka ditahan tanpa perlawanan oleh pasukan Negeri Cokelat.

Theodora dan Kitty dibawa terbang oleh salah satu lebah raksasa. Resep makanan termanis di dunia gagal diciptakan.

-TAMAT-

Cerita ini diikutsertakan dalam #TantanganDongengPeri

Advertisements

4 thoughts on “The Sweetest One

  1. Pingback: Mereka yang Mendongeng Peri | kamarpodjok

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s